Menjaga Fitrah Kebaikan Ramadhan Sepanjang Masa

Memeluk kebaikan
Meski telah berlalu beberapa hari, tentu kita masih rasakan kehangatan Ramadhan. Selama Ramadhan, kita seakan senantiasa dipeluk kebaikan dan memeluk kebaikan.

Setiap azan berkumandang, kaki terasa ringan pergi ke masjid. Jauh sebelum waktu shubuh masuk, tubuh ini pun telah bersiap bangun untuk tersungkur dalam tahajud yang syahdu, tak terasa penat tarawih berjama’ah usai shalat isya pada malam harinya.

Tangan ini pun begitu luwes saat menunaikan infak secara rutin, tak terlalu banyak perhitungan. Emosi pun terkontrol, rajin senyum, gemar menyapa dan mudah saling memaafkan, karena yang terbayang hanya janji Allah bagi mereka ahlul taqwa dalam QS. Ali-Imran 134, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit. Dan orang-orang yang menahanamarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” 

Ramadhan juga meningkatkan sensitifitas kita terhadap permasalahan sosial. Waktu kita seakan lapang untuk mencari para dhuafa dan giat membagikan bekal sahur serta ta’jil bagi mereka. Panti asuhan pun seakan kebanjiran kunjungan dan undangan berbuka bersama.

Al-Qur’an juga tampak mengkilat, karena tangan-tangan ini begitu intens menyentuhnya dengan keshalihan. Mata dan lidah kita seakan akrab dengan dengan Kalamullah.

Mungkin itu hanya sebagian kecil dari uraian kebaikan serta keshalihan yang kita lakukan saat Ramadhan mendidik kita sedemikian rupa. Ya, kita senantiasa dipeluk kebaikan dan memeluk kebaikan, tak bisa dipisahkan.

Kini, kita tengah berada di bulan Syawal, bulan yang seharusnya memotivasi kita untuk lebih meningkatkan lagi kualitas kebaikan dan keshalihan diri. Persis seperti makna syawal yang artinya “Peningkatan” yang tentunya juga menjadi parameter bagi kita untuk bulan-bulan selanjutnya, tak ada lagi istilah kemunduran.

Oleh karena itu, tentu kebaikan dan keshalihan yang telah menjadi rutinitas kita selama satu bulan, harus kita pastikan tetap terjaga pada bulan-bulan selanjutnya. Bukan hal yang lucu tentunya, kalau di luar Ramadhan kita ngotot bilang pada yang lain, “Suerrr deh, saya pernah sholeh juga kok waktu Ramadhan dulu!”, lalu selanjutnya bagaimana?

Semoga pada Syawal ini kita semakin mengokohkan nilai-nilai kebaikan dan keshalihan Ramadhan untuk bulan-bulan selanjutnya karena sesunguhnya kita sebagai Muslim ditakdirkan untuk baik, menjadikan baik dan memberikan kebaikan.

Meski saat berfikir ‘untung-rugi’ sekalipun, kita tetap baik, karena Allah menjadikan Islam untuk menumbuhkan logika keimanan yang senantiasa berfikir tinggi dengan output berkualitas sebagai seorang makhluk yang begitu mudah dalam berbuat kebaikan.

“Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” QS.Ar-Rahman:60. Sehingga yang tumbuh di pikiran kita; berbuat baik serta menjadi shalih itu mudah dan bagian dari fitrah yang harus dijaga sepanjang masa. (*)

(30 Agustus 2012, 14,55–menit-menit menjelang deadline,,ketika mendadak hari ini mendapat tugas mengisi kolom teropong untuk diterbitkan  (Jum’at 31 Agustus 2012 di harian Singgalang, insyaAllah)

http://www.facebook.com/notes/akmal-ahmad/menjaga-fitrah-kebaikan-ramadhan-sepanjang-masa/10151121634649437

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s