Mari Kayakan Indonesia!

indonesia
Dua bulan terakhir ini, saya masih saja melihat kenyataan miris Indonesia, khususnya Sumatera  Barat. Setiap kali survei ke lapangan menyusuri setiap pelosok daerah, sepertinya ‘bau’ kemiskinan masih kuat menyengat.

Pada salah satu Kecamatan yang ada di kota Padang saja, dari lima Kepala Keluarga (KK) yang saya survei dalam satu hari, ada tiga KK yang memiliki anak putus sekolah. Jika ditanya yang terancam putus sekolah, jumlahnya lebih banyak lagi, bahkan hampir merata ada di 11 Kecamatan di kota Padang. Alasannya sama, tak ada biaya.

Jika ditanya pemerintah, sejak 2009, pemerintah mengklaim telah memenuhi amanat UUD 1945 dengan mengalokasikan minimal 20 persen APBN untuk bidang pendidikan. Meski total dana pendidikan minimal sekitar Rp 200 triliun per tahun dibagi-bagi ke berbagai kementerian dan lembaga, serta pemerintah daerah, dan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) hanya mengelola Rp 50 triliun sampai Rp 60 triliun, kenaikan anggaran pendidikan cukup signifikan. Bahkan sebelum amanat itu dipenuhi, sejak 2005 pemerintah telah meluncurkan program bantuan operasional sekolah (BOS) untuk menunjang program wajib belajar (wajar) sembilan tahun.

Dilihat pada realita bidang kesehatan, juga tak jauh beda. Setiap bulannya, dalam lingkup Sumatera Barat, lebih dari 60 pengajuan bantuan kesehatan yang diterima Dompet Dhuafa Singgalang. Kasusnya pun berbeda, ada yang mengalami penyakit tahunan, biaya persalinan, kecelakaan, hingga tumor dan kanker yang telah banyak merenggut nyawa karena terlambat dalam penanganan.

Khusus kasus kanker saja, kini Dompet Dhuafa Singgalang tengah menggalang dana bagi lima orang ibu penderita kanker payudara dari rumah tangga miskin. Selama satu bulan, satu penderita kanker membutuhkan dana pengobatan sebesar Rp 15 juta – Rp 20 juta.

Jika ditanya pemerintah, anggaran kesehatan pemerintah selalu ditingkatkan. Tahun 2011 mengalami kenaikan menjadi Rp 26 triliun dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 22 triliun (Kompas.com 5/8/2012).

Tentu kita tak ingin menjadi rakyat yang hanya rajin bertanya. Toh, keadaan tak kan berubah jika kita hanya rajin bertanya, apalagi pada pemerintah. Padahal ada sebuah realita yang tak terbantahkan namun sering kita abaikan, bahwa ternyata masyarakat sebenarnya jauh lebih kaya dibandingkan pemerintah. Jika hari ini kita lihat pemerintah masih belum berhasil dengan hitung-hitungan anggarannya melenyapkan bau amis kemiskinan, masyarakat telah jauh lebih awal membuktikan keberhasilannya.

Kita pasti masih ingat Gempa Sumatera Barat 2009 yang lalu. Melalui potensi masyarakat saja, Dompet Dhuafa berhasil menghimpun dana 22 Miliyar dalam waktu relatif singkat untuk recovery Sumbar.

Itu belum termasuk hasil himpunan salah satu TV swasta yang bekerjasama dengan Dompet Dhuafa, yang juga berhasil menghimpun dana 60 M. Maka tak perlu menghitung anggaran satu tahun, hitungan beberapa bulan saja sudah lebih 80 miliyar potensi masyarakat terhimpun. Itu baru penghimpunan Dompet Dhuafa dengan salah satu sample mitranya, belum termasuk dengan penghimpunan lembaga lain dan segmen masyarakat keseluruhannya.

Maka, berdirilah puluhan sekolah yang tadinya ambruk. Senyum anak-anak nagari pun mengembang dengan paket beasiswa. Layanan kesehatan gratis tak kalah ketinggalan menambah harapan hidup. Bahkan, 1006 Hunian Sementara berdiri kokoh hingga kini menentramkan hati mereka yang kehilangan tempat tinggal.

Rasanya tak arif juga jika kita kembali ngotot bertanya anggaran APBN Rp 6,4 Triliun bagi recovery Sumbar. Toh, itu anggaran, sedangkan masyarakat sudah berhasil menghadirkan nyata di depan mata dan relatif berhasil menghilangkan bau amis kemiskinan.

Pernyataan saya ini, bukan berarti menyulut mosi tak percaya pada pemerintah. Hanya, ingin mengajak kita semua untuk membuka harapan yang jauh lebih besar dan realistis bagi masa depan negeri ini, Kaya ada di kantong kita masing-masing.

Maka, mulai detik ini, ayo lahirkan semangat kepedulian yang mendalam. Bagi penghasilannya yang mencapai nisab, semangat tunaikan zakat. Setiap hari pun menyisihkan infak terbaik, bahkan wakaf pun menjadi kegemaran. Saya yakin sebagai masyarakat, kita memiliki peran signifikan dalam memberantas bau kemiskinan, hingga akhirnya setiap sudut pelosok Indonesia memberikan udara yang segar lagi menyehatkan. Mari Kayakan Indonesia! (*)

(Markaz Juanda 24 Mei 2012—15.23, menit-menit menjelang deadline,,Terbit Sabtu 26 Mei 2012 di Harian Singgalang)

http://dompetdhuafasinggalang.org/2012/05/25/mari-kayakan-indonesia/

http://www.facebook.com/notes/akmal-ahmad/mari-kayakan-indonesia/10150904304379437

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s