Pantaskah Merasa Dekat Dengan-Nya?

sujud-01
Saban hari rasanya punggung ini tunduk bersama rukuk, kita pun seakan telah tunduk pada Sang Penggenggam jiwa. Begitu juga dengan kening ini, berulang kali tersungkur pada sujud panjang, kita pun seakan telah taat pada Sang Pemberi Rizki dan Penentu Takdir.

Maka, hati kita pun seakan ‘berbisik’, “Duhai Rabb, rasanya telah pantas diri ini menjadi orang-orang yang mendapat pertolongan pada setiap pinta dalam do’a.”

Hati yang awalnya ‘berbisik’ tadi, lantas hadir menjadi harapan-harapan yang begitu menguat dan hal itu sebanding dengan rasa, bahwa kita telah begitu dekat dengan Allah.

Tak ada lagi alasan bagi Allah untuk tidak memperkenankan setiap keinginan, mempermudah setiap urusan dan Ridho pada setiap aktivitas yang kita lakukan. Allah begitu dekat dengan diri ini, karena kita telah maksimalkan usaha untuk mendekatkan diri pada-Nya. Begitu kesimpulan yang tumbuh di pikiran kita.

Namun, sepertinya kita harus kembali mengevaluasi diri, karena Allah seakan menyadarkan kita melalui tegurannya dengan ungkapan yang halus dalam sebuah hadits qudsi, “Sesungguhnya Allah swt. kelak di hari Kiamat akan bertanya, “Hai Anak Adam, Aku Sakit, tetapi kenapa engkau tidak menjenguk-Ku?”

Jawab Anak Adam, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku harus menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”

Allah bertanya, “Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit, sedangkan engkau tidak menjenguknya? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau kunjungi dia, maka engkau akan dapati Aku di sisinya?”

“Hai Anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi, kenapa engkau tidak memberi-Ku makan?” Jawab Anak Adam, “Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi makan kepada-Mu sedangkan Engkau Tuhan Semesta Alam?”

Allah bertanya, “Apakah engkau tidak tahu hamba-Ku fulan minta makan kepadamu, sedangkan engkau tidak memberinya makan? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkannya di Sisi-Ku? Aku minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberi-Ku minum?”

Jawab Anak Adam, “Bagaimana mungkin aku melakukannya, padahal Engkau Tuhan Semesta Alam?” Allah swt. berfirman, “Hamba-Ku si fulan minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum, maka pasti engkau mendapatkannya di sisi-Ku.” (HR. Muslim).

Jika kita telah merasa setiap rusuk tulang ini senantiasa taat serta tunduk pada Allah dan berharap kemudahan-Nya, Rezeki-Nya, Barakah-Nya bahkan Ridho-Nya. Mungkinkah rasa itu diakui kebenarannya oleh Allah, sedangkan kita tak peduli terhadap hajat saudara kita yang tengah membutuhkan pertolongan? Maka, apakah pantas kita merasa dekat pada Allah dan berharap pertemuan dengan-Nya?

“Dan orang-orang yang pada hartanya ada hak yang tersurat, bagi yang meminta pertolongan dan bagi yang melarat (yang tidak mau meminta-minta),” (QS Al-Ma’arij [70]: 24-25). (*)

(Dimuat, di Harian Singgalang, edisi Jumat 16 Maret 2012)


http://www.facebook.com/notes/akmal-ahmad/pantaskah-merasa-dekat-pada-nya-/10150664182444437

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s