Revolusi Kesadaran

Sebuah tulisan saya mengenai realita kemiskinan di Sumbar, kembali dimuat pada halaman pertama Harian Umum Singgalang edisi Rabu (25/3). Tulisan tentang seorang ibu rumah tangga paruh baya, Erdaneti, yang mengadukan  nasibnya ke Dompet Dhuafa Singgalang. Beliau adalah sosok ibu rumah tangga dari  keluarga miskin yang berasal dari nagari Lolo, Surian , Kabupaten Solok.

Hampir 4 tahun ia menderita kanker payudara. Bahkan, 6 bulan terakhir ini semakin meradang, hingga tim medis menyatakan kanker yang ia derita telah  memasuki “stadium 4”. Akhirnya, kanker itu pun meruyak. Ia bangun harapan untuk mendapatkan bantuan pengobatan. Bersama suami dan anak bungsunya, ia tinggalkan Solok menuju Padang. Tubuh yang semakin lemah itupun dipaksa berjalan, sembari memapah perih yang terus menghentak dada.

Salah seorang teman saya menanggapi hal ini, dengan mengutip pernyataan sang ibu, dari tulisan tersebut;“Sudah tiga bulan kami di Padang untuk mencari bantuan pengobatan, namun hingga kini belum berhasil “, ujar Erdaneti, lirih”. Kemudian, dari teman saya ini muncul pertanyaan; “di mana kita? Ya Allah..”.

Sungguh, pertanyaan yang menurut saya (seharusnya efektif) memerahkan telinga, saya dan anda. Syukur jika bisa sampai malu hati. Namun, tentunya hal itu berlaku bagi kita yang sadar. Sekali lagi saya ulangi, berlaku bagi kita yang sadar! Sadar akan diri kita sebagai rang minang nan tau raso jo pareso. Sadar akan ukhuwwah yang senantiasa dituntut bagi kita sebagai seorang muslim. Bahkan Rasulullah Muhammad Saw. pun menyatakan dengan tegas, “Salah seorang di antara kalian belum dikatakan beriman yang sebenarnya, sebelum ia mencintai saudaranya (orang lain) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari).

Tiga bulan berada di Padang, seorang ibu tertatih dengan tubuh lemah mengharapkan bantuan tanpa hasil apa-apa. Apa tidak ada lagi orang berharta di nagari kita ini? Atau hilang sudah keimanan, hingga tak tersisa lagi rasa cinta terhadap sesama. Naudzubillah.

Sungguh, jika kita masing-masing mau menyisihkan uang seribu rupiah, tentu sang ibu akan segera mendapatkan  tindakan  medis yang memadai. Tidaklah susah nagari kita ini mengumpulkan uang Rp 10 juta untuk biaya operasi. Bahkan bukan hal mustahil bisa ditanggung hanya dengan beberapa orang saja. Karena saya  yakin, tentunya juga anda, bahwa nagari kita bukanlah nagari yang dihuni kaum dhuafa seluruhnya.

Mungkin sebaiknya kita kembali menata hati ini. Kita butuh Revolusi Kesadaran untuk mengkalibrasi ulang sensitifitas diri terhadap realita miris di depan mata. Agar senantiasa berusaha mengambil peran dalam membantu sesama yang hidup di bawah atap kemiskinan.

Maka, sekaranglah waktu yang tepat untuk menyisihkan sebagian harta kita bagi mereka. Tak kan ada lagi kata penundaan. Karena, diri ini tak kan sanggup menyesalinya di kemudian hari. “…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi dan lambung mereka, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka,“Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”(Q.S. At-Taubah 34 -35). Wallahualam.

*Dimuat pada Kolom Kemandirian Harian Umum Singgalang, Edisi Jum’at 8 April 2011

Berikut profil Ibu Erdaneti, yang dimuat di harian Singgalang :

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=5299

 

Profil Beliau pun juga dimuat pada harian Republika Jum’at (8/4)..di Kolom “Deras” Dompet Dhuafa Republika (jakarta)

 

http://www.dompetdhuafa.org/?p=5580

 

*** Untuk teman saya, terimakasih atas “pertanyaannya” semoga bisa menginspirasi kita semua

Wassalam

http://www.facebook.com/notes/akmal-ahmad/revolusi-kesadaran/10150149297609437

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s