Saatnya Amil (Zakat) Berbenah

ImageSaya  yakin (dan berusaha berbaik sangka) setiap Amil Zakat di Indonesia ini memiliki impian yang sama, yaitu mengentaskan kemiskinan. Dan itu semua berlandaskan dari semangat perubahan.

Namun, yang perlu kita ingat, sehebat apapun impian untuk menciptakannya real di depan mata, belum tentu kita mampu menjalankannya jika tidak berorientasi pada tindakan dan tak berani mengambil resiko. Sebaliknya, tindakan yang hebat, jika tidak dilandasi dengan strategi yang benar, akan sia-sia.

Strategi dan action adalah dua hal yang penting dalam menciptakan perubahan. Strategi berorientasi pada kontinuitas perubahan. Kita tentunya tidak ingin kemiskinan hanya mampu ditekan pada satu dekade saja bukan?

Kemudian, strategi yang berorientasi pada action adalah strategi yang kaya inovasi dan dilandasi dengan cara berfikir pemberdayaan. Karena pada dasarnya setiap amil dituntut gesit dalam memberdayakan Zakat, Infak, Shadaqah dan Wakaf (ZISWAF) yang telah berhasil dihimpun dari potensi ummat.

Lantas seberapa baik kualitas strategi pemberdayaan yang telah kita lakukan? Ingat, membuat miskin, ternyata jauh sangat mudah ketimbang menanggulanginya. Jangan sampai fungsi amil yang tidak ditopang strategi yang benar menyebabkan tidak efektif dan efisiennya pemberdayaan ZISWAF. Akibatnya, para Muzaki lari dan kemiskinan pun semakin menjadi-jadi menghimpit mustahik. Kalau sudah seperti ini, peran Amil dalam mengedukasi dan maintenance Muzaki akan terganggu, karena ini menyangkut dengan hal yang sangat asasi, yaitu kepercayaan.

Ada delapan faktor yang perlu kita benahi sebagai amil, untuk menjadikan semangat perubahan menjadi efektif dan efisien dalam pengentasan kemiskinan, yaitu:

1.  Kapasitas pengembangan proses edukasi terhadap muzaki dan pemberdayaan bagi mustahik. Amil harus memastikan adanya pengembangan dari waktu ke waktu dalam pendekatan edukasi terhadap muzakki sekaligus pemberdayaan mustahik. Hal ini menyangkut dengan banyaknya faktor yang dapat merubah kondisi dan keadaan di sekitar Muzaki dan Mustahik. Semakin baik kita menyesuaikan kebijakan dari perkembangan yang ada, maka semakin besar peluang kita untuk berhasil.

2.  Memperluas jaringan dan akses. Proses edukasi dan pemberdayaan membutuhkan keluasan ide dan energi yang besar. Sehingga kemampuan amil dalam menghimpun potensi yang ada, akan sangat berpengaruh terhadap efektif dan efisiennya kinerja. Maka, amil dituntut mampu memperbaiki dan memperluas kerjasama dengan setiap pemilik potensi yang ada. Namun, tentu tetap memegang prinsip yang syari.

3. Membangun hubungan dengan hati. Amil pada dasarnya dituntut memiliki fleksibelitas dalam setiap berinteraksi. Wilayah kerjanya begitu luas, karena harus mampu berhadapan dengan setiap level status sosial. Maka, setiap interaksi yang dilakukan haruslah berdasarkan hati, tidak hanya dengan pelepasan target-target semata. Karena satu hal fungsi amil yang perlu senantiasa kita ingat, yaitu Membangun Ummat, dan itu tentunya dengan hati.

4. Bukan semata-mata menghimpun uang. Jangan sampai yang kita lihat dari Muzakki adalah sebuah prospek semata. Melalui proses interaksi dengan hati tadi tentu kita berharap proses edukasi mampu menjadi kultur yang yang berlaku jamak. Kesadaran kolektif akan besarnya potensi ZISWAF dalam pengentasan kemiskinan, tidak akan terwujud jika amil hanya berorientasi kepada uang semata.

5. Memperbaiki komunikasi untuk membangun kepercayaan. Komunikasi yang kita bangun sedapat mungkin bersifat egaliter dan tentunya menjunjung tinggi akuntabilitas. Semakin baik kualitas komunikasi yang diberikan, maka semakin mudahlah proses edukasi.

6. Bekerja dengan cepat. Bagi semua orang termasuk seorang amil, waktu memang tidak bisa dibeli, tetapi kecepatan bisa diciptakan. Cepat mengambil keputusan, cepat meluncurkan program pemberdayaan, cepat melaporkan pertanggungjawaban dan bahkan cepat untuk merubah pola kebijakan jika setelah dievalusi hal tersebut tidak benar. Bukankah sebaik-baik perubahan adalah yang paling cepat terealisasi? Maka kecepatan lah kuncinya.

7. Membangun dan membenahi institusi. Melalui Lembaga Amil Zakat (LAZ), amil berupaya membangun kembali “institusi menyejarah, Baitul Mal”. Maka setiap amil dituntut untuk bertanggung jawab membenahi dan mengembangkan setiap institusi yang merupakan sarana untuk bergerak bersama.

8. Terus menerus memperbaiki mutu SDM. Inilah pusat perubahan itu sendiri. Kualitas amil merupakan syarat mutlak yang mempengaruhi terwujud atau tidaknya sebuah perubahan dalam pengentasan kemiskinan. Amil harus siap menjadi yang terdepan dalam memberdayakan ummat dan senantiasa memperbaiki kualitas kinerjanya. Maka, bukankah selama ini sejarah menempatkan orang-orang terbaik yang berada pada barisan terdepan?

Wallahua’lam.

(Diterbitkan di Harian Singgalang, 10 Juni 2011)

http://www.facebook.com/notes/akmal-ahmad/saatnya-amil-zakat-berbenah/10151067556044437

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s